Bukan Banci Biasa

Leave a Comment



Siapa bilang cuma laki-laki yang alergi dengan banci? Perempuan juga alergi dengan banci! Banci bukan sekedar laki-laki yang menyamar jadi perempuan, tapi juga laki-laki yang tak bisa bersikap sebagaimana layaknya laki-laki. Perawakan dan sikapnya sangat 'laki' tapi pemikiran dan keberaniannya (kalau kata anak kecil di gambar...) cemen!


Terbiasa menjadi samsak curhat teman-teman, terkhusus soal percintaan yang saya pun tak paham-paham amat, ilmu saya tentang beragam karakter pria semakin bertambah. Pria yang ke-mama-an, pria yang humoris tapi temperamen, pria yang perhitungan, pria roket, dan kali ini soal banci. Sebelumnya, saya ingin katakan bahwa tulisan ini tak dimaksudkan untuk menggeneralisir apalagi memojokkan kaum pria, namun mari kita lihat sekeliling dan sadari kalau pria tipikal seperti ini berkeliaran. Dear reader, I'm sure that you won't be mad simply because you're not the one of 'em. 

Untuk yang kisahnya saya angkat, tak perlu khawatir karena saya tak akan menggunakan nama aslimu. Harapannya, segurat tulisan ini bisa menjadi pengingat kewaspadaan bagi kaum perempuan yang mungkin menemukan tipikal banci.

Ivy menerima request kontak BBM dari seorang pria yang namanya tak begitu asing. Akhirnya ia menerima pertemanan di BBM itu dan tak lama mereka mulai berbincang. Marvel mengaku mendapat kontak Ivy dari temannya yang tak lain adalah senior Ivy sewaktu SMA. Ternyata mereka satu kampus namun beda fakultas dan pernah beberapa kali berpapasan namun tak sekalipun berbincang. Marvel berterus terang kepada Ivy kalau sudah lama ia mencari tahu tentang Ivy, bahkan berani mengumpamakan dirinya bak secret admirer Ivy. Hanya saja, Marvel mengaku minder untuk berteman karena dia pikir Ivy adalah tipikal gadis yang berkelas dan pilih-pilih teman. Akhirnya setelah keduanya lulus, bekerja, apalagi beda kota, barulah Marvel berani mengajak kenalan.

(Indikasi 1: pria yang bertolak ukur pada logika biasanya punya sifat tak gampang percaya dan gigih. Biasanya pria akan lebih tertantang ketika menemukan wanita yang dikaguminya sulit dikejar, bukannya malah takut dan beraninya hanya ketika berjauhan. Jangan jadi pengecut lah!)

Marvel menghubungi Ivy secara intens, memberikan perhatian, bahkan ketika Ivy tak membalas sms-nya, Marvel kerap mempertanyakan. Hal ini sempat membuat Ivy gerah dan berterus terang kalau pekerjaannya tak menyediakan banyak waktu untuk memegang ponsel 24 jam dan 'wajib lapor' bukanlah gayanya. Marvel mengakui kalau kegelisahannya selama tak ada kabar dari Ivy karena dia sudah terbiasa mendengarkan cerita-cerita Ivy dan merasa selalu butuh. Marvel menghargai permintaan Ivy dan komunikasi berlangsung tak seintens dulu. Secara kasat mata, tak ada yang salah dengan Marvel, seorang lulusan S2 yang sekarang bekerja di perusahaan cukup populer, perhatian, baik, dan sekilas mengerti how to treat a woman well karena punya saudara perempuan.

(Indikasi 2: pria yang selalu ingin tahu dan mendengar cerita kita, sekilas terlihat seperti ingin serius dengan kita. Hati-hati dengan motifnya, apakah dia tulus atau karena dia butuh? Kalau masih pedekate saja berani egois, apa kabar kalau sudah berumah tangga? Supaya tak tertipu pria baik dan mapan, tes dari hal-hal kecil yang secara natural keluar dari perkataannya)

Nyaris setahun mereka berteman dan berbagi cerita. Sebagai perempuan wajar bila Ivy merasa aneh dengan pertemanan yang sama sekali hanya berlangsung di udara namun sepertinya Marvel berusaha untuk terus mengenalnya lebih. Merasa sama-sama dewasa, Ivy dan Marvel bersepakat untuk saling berdiam diri sejenak. Dalam benaknya, Ivy bulat tekad jika Marvel memang laki-laki baik dan serius maka ia akan berusaha bagaimana pun caranya ke Jakarta untuk bertemu. Terbukti, saat tenggat waktu ditentukan, Marvel tak punya nyali untuk menyusul Ivy.

(Indikasi 3: gentleman never blame on anyone or anything, at least he try! Pria dewasa pasti tahu resiko dari setiap hubungan, kalau hanya bisa menyalahkan keadaan apalagi bawa alasan takut sikut-menyikut di kantor, tandanya percuma ia tua tapi kekanakan. Main aman mau jadi imam? Jeez!)

Wanita baik untuk pria baik. Pasangan sepadan. Saya percaya kalau saat Ivy tak sengaja membuka media sosial Marvel sehari setelah mereka bicara serius perihal pertemanan ini, Tuhan sengaja membukakan mata Ivy tentang siapa Marvel sebenarnya. Terlihat disana Marvel berbalasan komentar dengan seorang wanita dengan panggilan sayang. Saya memaklumi kekecewaan Ivy, tapi saya angkat jempol saat Ivy mengatakan bahwa saat itu yang terlintas di hatinya "Thanks God!" Malam itu juga ia meminta Marvel meneleponnya. Dengan bergetar sesekali terdiam, Marvel bercerita panjang-lebar, lucunya sempat pula Marvel mengakui kalau hubungannya yang sekarang pasti akan pupus karena Ibunya sebenarnya lebih setuju jika dia jalan dengan Ivy. Bak mendengarkan Dongeng Raja Cemen, Ivy hanya geleng-geleng kepala dan tertawa dalam hati, "Anak kecil saja berani ambil resiko, ini sudah tua kok maunya cari aman?" Ivy mengakhiri pembicaraan dengan berkata bahwa Marvel tak perlu menghubunginya lagi untuk hal apapun dengan media apapun. Marvel beberapa kali bertanya sampai kapan ia tak boleh menghubungi Ivy, memohon untuk dimaafkan, dan lagi-lagi mengungkapkan kalau dirinya masih butuh Ivy.  Kalimat yang paling saya suka meluncur manis dari Ivy 'Maaf ya, saya bukan pilihan! Anda laki-laki kan? Selesaikan apa yang sudah Anda pilih.' Sekitar 15 menit setelah Ivy menutup telepon, sms cukup panjang datang dari Marvel. Kira-kira demikian (harap maklum kalau tak sama persis):

'Dulu aku menjadi pengagum rahasiamu dan kini aku kembali seperti itu. Walaupun itu keputusanmu, kamu selalu ada di hatiku. I'm not a big liar, please don't judge me and I'm sorry. I won't lie to myself anymore that I love you. Hard to find you, hard to know you, but you go easily just because of my mistakes. Forgive me please.'

(Indikasi 4: Pria yang ambil keputusan tapi tak berani sepaket dengan resikonya sama halnya dengan banci. harga diri seseorang, tak peduli pria atau wanita, adalah kejujuran. Satu kebohongan perlu kebohongan selanjutnya untuk menutupinya. Pria yang berbohong tapi sayangnya tak terlalu pintar bermain cantik ini, mungkin dulunya jadi korban.)

'Marvel, cukup. Semakin kamu bikin pembenaran, semakin rendah kamu di mataku.'

Balasan yang singkat dan tegas dari Ivy seharusnya cukup membuat Marvel sadar. Namun jika masih ada sms berikutnya, it's such an obsession and he definitely need further assessment. Empat jempol untuk Ivy, tak perlu galau karena Tuhan pasti sediakan yang terbaik untuk anak-Nya. Empat jempol juga untuk Marvel (tapi ke bawah) dan selamat menikmati buah dari kebodohanmu. Menurut kalian?
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda