Before today is ended, let me share a story on my special day. Yes, it's my birthday, I'm officially 26 now! What should I wonder on my birthday? Surprise? Oh, come on, Thella, you're getting old! But I couldn't lie to myself that I was missing my old moment. 

This date, a year ago, I was sitting in class, nothing special until my lecturer finished. When I walked out from class, one by one my friends greeted me, I was shy cause I never think this would happen in this kind of individual country. I mean, everyone respects their own business so maybe there's no enough time to mind others, if only they are close. But, it was not only the greetings! Before I left my building, my girls - Lesedi, Lizzy, Dorothea, Sumi, Maika (minus Megan) gave me a birthday card signed by them, flower, chocolate, a cute bear wearing my University's tee and warm hugs. They also invited me to celebrate my birthday at Sumi's flat, and they prepared all the foodies and drinks. I was beyond happy, even couldn't express my feeling at that time! I was so blessed for having my girls.

Then you know why I missed them much. We're that close even we're not taking the same programme.  I wish they were here but unfortunately not. I assumed that I would spend my birthday as same as my usual Friday. Well, I got the earlier phone calls from my lovely ones in Indonesia, also many greetings from my friends but I was (still) hoping something sweet. Until I got a mail from a stranger at 09.17 am, who confessed that he is a member of the separatist group. I was not that quick to believe, but I was terrified when reading his email mentioned my surname, which I never used in every official document.

"Dear Mrs Sirait...we would like to congratulate for your 26th birthday and confess our intention to recruit you to join our army. Let's make a better world through our underground organisation."

He also added the Arabic version of his email and...there was an attachment! What would you do if you are me? I was in a dilemma, too curious indeed afraid to open the video. I almost took this blackmail seriously and wanted to forward it to my university. But I didn't until someone contacted me through Whatsapp asking 'Udh baca email hari ini blm kak?' I am not a suspicious person, so I told him what I got. He suggested me to open the attachment, but I rejected his idea because I was scared! He kept telling me to do so till I won my curiosity above my fear. In the beginning, I saw two men wearing all black, I was quite worried, so I put my phone away from my face. After that, I heard them saying something in my language, and I felt familiar with the voice. I was trying to recognise their face, and I got them! I couldn't stop laughing watching their ditsy disguise. I was wrong thinking that my birthday couldn't be special. I know this was not sweet, but as my very first time got a birthday prank in my life, it perked me up! I impulsively sent a voice note to them, expressing my laughter no matter how bad it sounds.

It didn't over yet. I got another mail at 21.13 titled 'Need Your Help!' from a stranger. He told that we met in APEC last year, which I literally attended. But now I felt dodgy whereas the similar pattern to the first mail. I kept open it and watched another goofy playacting! Jeez, how can I stop laughing? These four men, who lived under the same roof, are really nuts! Indeed, they made my day unusual. Even while I was writing this blog, I still could't hide my fluky smile on my face!

I was so blessed for having Roman Boys - a cherished calling for five guys living at Roman Way who always made me alive whenever I met them. So, I decided to make a story of them on my special day. Thank you Daniel, Rendy, Pandhe, Paksi and Kent for being my A1-persons here.


Guilelessly yours,

-KakThel-
‘Sejarah akan terus berulang’

Bhinneka Tunggal Ika bukanlah kosa kata baru. Bahkan perihal hidup dalam keberagaman sudah diajarkan semenjak kita SD. Masih ingat pelajaran PMP atau PPKn atau PKn? Pasti ada alasan mengapa mata pelajaran tersebut tetap eksis hingga saat ini. Sejak kelas IV SD, seorang guru sudah mengajarkan bagaiamna bersikap toleran[1]. Naik ke kelas V, anak mulai diberikan contoh berbagai kegiatan yang mendukung keberagaman sosial demi persatuan bangsa[2]. Lebih kritis lagi di kelas VI, anak sudah harus bisa menganalisis pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian[3].

Saya yakin Permendikbud tak asal ditandatangani di bulan Juni tahun lalu. Ada semangat yang melatarbelakangi mengapa pelajaran PKn tetap lestari. ‘Ini soal tenun kebangsaan. Titik!’ ungkap Pak Anies dalam tulisannya di bulan September 2016. Siapa diantara kita yang tidak setuju dengan gagasan mulia ini? Nyatanya saat perjuangan mendirikan NKRI pun, para pahlawan tak sempat bertanya apalagi mengotakkan diri berdasarkan agama sebelum mengangkat senjata. Negara ini berdiri bukan hasil perjuangan satu golongan tapi satu hati. Kalaulah dulu para pejuang kita berlandaskan pada asas ‘cepat-cepatan klaim’ rasanya tak mungkin asas Bhinneka Tunggal Ika lahir. Karena yang sejarah catat adalah semangat juang bukan komparasi kontribusi antar-golongan dalam merebut kemerdekaan.

Nah, kalau secara teori kita sudah mantap, bagaimana dengan praktiknya? Jelas tak semudah itu. Kalau segala sesuatunya sudah berjalan ideal, tak usahlah Pak Anies repot-repot menyerukan ‘Tenun Kebangsaan’. Hadirnya masalah sosial yang berakar dari sensitivitas akhir-akhir ini juga bukan perkara baru. ‘Sejarah akan terus berulang’ itu benar adanya. Bukan peristiwanya tapi pola-polanya, tentu dengan oknum-oknum berbeda. Jelas-jelas di Indonesia mengakui lima, sekarang enam, agama, tapi di era maju saat ini pola primordialisme masih saja bercokol. Sedikit menengok ke belakang, pada masa Orde Baru dalam UU Nomor 8 Tahun 1985, semua Ormas ‘diwajibkan’ berlandaskan Pancasila dan tindakan ekstrimis dalam bentuk apapun tidak bisa ditolerir. Hanya selang beberapa bulan setelah reformasi, pola eksistensi organisasi kemasyarakatan pun berubah. Coba hitung ada berapa banyak Ormas garis keras yang tumbuh subur selama 18 tahun belakangan ini?

UU Ormas yang baru di tahun 2013 pun ternyata bukan jaminan untuk mengontrol pergerakan Ormas agar lebih selaras dengan kebhinekaan. Coba hitung selama tiga tahun belakangan, sudah berapa kali ada aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama? Mungkin ini yang Pak Anies sebut-sebut sebagai ‘perobek tenun’.

Toleransi di tengah perobek, mungkinkah?

Sebagai seorang alumni gerakan Indonesia Mengajar, selama satu tahun menjadi guru muda di desa Adodo Molu, Maluku Tenggara Barat, saya sempat mengalami krisis kepercayaan saat mengajarkan tentang Kebhinekaan. Bagaimana mungkin anak-anak di sebuah desa yang 99.99% penduduknya adalah Kristen bisa mengerti pentingnya toleransi? Meminjam motto Sabang Merauke[4] bahwa toleransi itu dialami bukan hanya diajarkan, beruntungnya rekan sesama Pengajar Muda di desa sebelah adalah seorang Muslim. Saat Eko berkunjung ke desa saya dan sholat, banyak anak-anak yang mengerubungi untuk melihat. Tak jarang Eko disuguhi dengan pertanyaan polos ala anak kecil tentang agamanya, tapi dia berhasil memberikan pengertian. Bahkan saat bulan puasa, rekan guru saya sempat bertanya ‘Kalau buka puasa katong bikin yang manis kah buat Pak Eko?’. Eko adalah seorang Muslim yang taat, bukan sekedar sholat lima waktu, tapi perihal potong ayam secara halal pun kami jadi mengerti karenanya. Namun, ia juga tak jarang membantu program gereja di desanya, bahkan dia amat sibuk waktu mempersiapkan acara Natal untuk anak-anak. Apakah dia Muslim yang salah? Tergantung kacamata mana yang kita pakai.

Lalu pertanyaannya, apakah kita yang adalah orang berpendidikan, tinggal di kota, dan punya akses informasi yang luas ini harus kembali belajar kepada anak kelas IV SD atau mencoba hidup di pedalaman supaya paham esensi Bhinneka Tunggal Ika? Atau menyapu bersih ormas-ormas ekstrim adalah solusi praktis?

Toleransi bukanlah program pemerintah jangka pendek, terlebih apabila tenun kebangsaan ini terlanjur robek. Berharap di Indonesia bebas ormas garis keras bagaikan berimajinasi kalau di Indonesia presidennya berasal dari antara kelima agama lain yang diakui. Hampir tidak mungkin, toh? Lagipula kalau ormasnya dibubarkan, selama masih ada oknum-oknum perobek, kan tinggal bikin ormas baru. UU Ormas 2013 malah memberi ruang kepada ormas yang tidak berbadan hukum, jadi tinggal sesuaikan AD/ART agar memenuhi persyaratan supaya lolos administrasi. Dengan demikian, jika penegakan hukum tak bisa kita jadikan sandaran, mungkin sudah saatnya kita yang mulai berusaha daripada kerap menuntut pemerintah bersikap ideal.

Lalu, kita bisa apa?
Ibaratkan kita punya kain tenun yang begitu apik disulam dengan tangan, harganya mahal dan jadi kesayangan. Ketika tenun itu dirobek-robek oleh orang, tentulah kita marah. Tapi marah kita pun tak cukup karena robekan tak mungkin terjahit dengan sendirinya. Jangan sampai robekan itu tambah lebar, kita harus segera menjahitnya! Anggaplah robekannya tak cuma satu, maka mulailah menjahit dari robekan yang terlebar.

Saat ini robekan terlebar itu adalah Jakarta. Bagaimana tidak, sebagai ibukota negara yang terbiasa dihuni oleh orang dari berbagai suku, ras, dan agama, belakangan ini tergerus oleh sensitivitas keagamaan. Berawal dari tudingan penistaan agama oleh Gubernur DKI yang berlanjut pada aksi massal 212 dan 412. Bagi saya ini bukan soal siapa yang salah dan benar karena nyatanya robekan melebar ke tempat lain seperti pembubaran KKR di Bandung dan sweeping atribut Natal. Hal ini layak jadi perenungan kita bersama, terlebih untuk warga Jakarta yang bulan depan akan memilih pemimpinnya.

‘Jika terlalu mengagumi seseorang, kadang yang salah terlihat benar. Sebaliknya, kalau terlalu membenci seseorang, hal baik pun terasa buruk.’ Lebih baik secukupnya saja agar bisa mempertimbangkan lebih jernih. Mungkin diantara kita sudah memegang jagoan masing-masing, bukan hal mudah pula mengubah pilihan. Namun, amat disayangkan kalau pilihan kita hanya berdasar agama, ras, ataupun simpati. Amat disayangkan kalau lima tahun nasib Jakarta tergadai oleh provokasi. Masalah kompleks di Jakarta tak pilih-pilih mau diselesaikan oleh siapa, yang terpenting tak sekedar tawaran konsep yang memukau tapi juga eksekusi yang tepat sasaran.

Ingat, kita tak hanya sekedar bertarung melawan perobek tapi juga menyulam kembali robekan! Jika kita merasa tidak nyaman dengan kondisi intoleran, pilihlah pemimpin yang punya sikap. Dialog dengan semua kalangan bahkan yang ormas ekstrim sekalipun bukan persoalan, selama konsisten menebarkan semangat keberagaman. ‘Kita harus kembalikan Jakarta, jangan sampai serasa hidup di tanah asing’. Mudah-mudahan kita setju untuk menafsirkannya demikian: Jakarta, tak hanya ibukota negara, pusat pemerintahan, tapi juga riwayatnya sebagai tanah tempat orang dari beragam tempat, suku, dan agama, selayaknya hidup berdampingan secara damai. Mari menjahit robekan tenun, dimulai dari Jakarta!

Obrolan Warung Kopi, 06.01.17

#BukanTimsesAtauHaters


[1] Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 Kelas IV terkait Kompetensi Dasar Sikap Sosial, lebih jelasnya poin 2.3 berbunyi ‘Bersikap toleran dalam keberagaman umat beragama di masyarakat dalam konteks Bhineka Tunggal Ika’ dan poin 2.4 memperkuat dengan ‘Menampilkan sikap kerjasama dalam berbagai bentuk keberagaman suku bangsa, sosial dan budaya di Indonesia yang terikat persatuan dan kesatuan’
[2] Kompetensi Dasar Keterampilan poin 4.3 ‘Menyelenggarakan kegiatan yang mendukung keberagaman sosial budaya masyarakat’ lalu diperkuat dengan ‘Menyajikan hasil penggalian tentang manfaat persatuan dan kesatuan untuk membangun kerukunan.’
[3] Kompetensi Dasar berbunyi ‘Menyajikan hasil analisis pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.’
[4] SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali) adalah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan semangat toleransi. Dalam program yang digagas sejak 2012 ini, anak-anak dari seluruh Indonesia akan tinggal dengan keluarga yang berbeda dan berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda.
If we agree with famous saying said “First impression matters”, we might react the same way. Can you imagine how exciting the experience at the first time you travel to South America? I had two important events in Peru: first, the trip to Custo and Machu Picchu and second, joining APEC conference. It supposed to be amazing unless you had a delayed flight for more than 10 hours! It was scarier than a nightmare although you slept in a fancy hotel. Avianca provided me with those.

I booked with Avianca for the first time for flying to Lima. I was so excited, so I departed early from Birmingham to London. I was scheduled to depart from London to Bogota (AV 121) on 09th November 2016 at 22.05. After lining in a long queue at Heathrow, Avianca’s officer told me that my flight was delayed until tomorrow. I asked her why I did not receive any notice by email and phone, but she kept telling me, “The closure of Bogota airport affects all airlines, not only Avianca. We are very sorry, but the only option is tomorrow at 09.40. We have prepared your room to stay tonight; the bus will take you to the hotel and get back here tomorrow morning”. I replied, “I have a connecting flight with LATAM airline tomorrow morning, could you help me to talk officially to them? Cause your delay will ruin all my schedule, so please kindly help.” Then I was surprised with their response, “You booked a different airline so you must contact them by yourself, we can only provide you with this information letter.” I (still) kept my emotion and asked her, “The problem is I have a trip on Friday morning in Cusco so can you please arrange me to the earliest flight from Bogota to Lima?” She wrote on my ticket while explaining, “It depends on seat availability, so you only got a flight at 22.15 from Bogota. Sorry.” What do you feel if you were me? Unfair? Yes. They put no respect on customer satisfaction. Even they did not try to calm me, at least. I was so panic indeed down, but I have no option, so I joined other passengers to go to the hotel.

Avianca provided us with a deluxe room in a four-stars hotel. Smart enough to apologise, huh? For some passengers who have no fixed schedule, it might be such leisure. But for me, I did not enjoy my deluxe room because I almost did not sleep. My head was full of worries. I called the customer service of LATAM Airlines and explained the reason for changing the flight. A lady on the phone tried to calm me down while she typed my explanation on a case form. She promised that she would pass this form to her supervisor and asked me to wait several hours to be contacted. I also emailed SAS Travel, an agency who arrange my trip to Sacred Valley and Machu Picchu, so they know that I will arrive lately. I was waiting for their replies, hoping for a certainty. Till the day changed, I got no email from both, and I had to depart to the airport with puffy eyes. An hour before boarding, I called LATAM again to recheck my case form. But, still, I had to wait till someone calling me back. Then, I should hold my dizzy head, thinking of uncertainty for last 9 hours during the flight to Bogota. Avianca must not know how it feels!

After arrived in Bogota, I run to see a schedule board. I found there was the earliest flight to Lima, so I run to the departure gate. I asked the Avianca officer about the possibility to change my flight. When I tried to explain my problem, she said “Sorry, your flight was scheduled at night, and this plane had no available seat. If you want to complain, you can go to the customer service. Maybe they could help you to find an Avianca’s direct flight from Bogota to Cusco.” I was like find an oasis in the desert. But then, it just a false hope. I was asking the airport officer about customer service, and in fact, there was nothing. Again, I had no choice except waiting for my flight. During that time, I opened my laptop to recheck email from LATAM, and I found that they had tried to contact me during my flight from London to Bogota. I called them again, asking for the earliest flight from Lima to Cusco. Yes, I was still optimist that I can get into my trip until I faced an hour delayed from Avianca. Again? Yes! But now, they kept letting us wait without any reason until one passenger came to their desk and got angry. The pilot came to the passenger and explained the air traffic as the cause for delaying. For those who depart from Bogota, this was not a big issue. But for us, who came from London and had experienced over 10 hours delayed, we were very disappointed! I saw no smile on everyone’s faces while we were boarding.

After arrived in Lima and took my baggage, I ran to the domestic departure area to find LATAM desk. For several times, I turned into down. I missed my connecting flight to Cusco because of Avianca’s delay. With the rest of my energy, I explained the reason I came late but unfortunately the available seat only for the flight at 08.10. I was crying at the airport and went back to Avianca’s desk. I found there was one flight to Cusco, which I could depart soon, I was hoping that they could be responsible to me for a customer who missed her flight. But what I got? Even with the tears falling, they only could say “Sorry, but you booked your flight to Cusco separately, if you did in the same booking, ‘maybe’ we could help you.” I kept telling them “Yes, but if your flight was on time, I wouldn’t miss my flight, what could you do to help me?” And again she replied, “Sorry, we could do nothing.” In fact, yes they did n't do anything, even to calm the customer they could not do!


I only have an hour at that moment, so I tried to find a WIFI at Starbucks and sent an email to SAS travel, telling them that I would arrive in Cusco at very late. I surrendered to them about my group day trip to Sacred Valley; I knew that I did not have money that much to repay it privately. After that, I tried my luck to LATAM, and yes, God saved me. I got a seat although had to pay additional $30. I straightly went to boarding gate after checking in. 

Later, after I back home, I tried to contact Avianca through email. I wanted to complain for the treatment. But they replied my email as you could read below:
"We regret to inform you that any compensation can be authorized by Avianca. Please accept our most sincere apologies for any disruption which our delay may have caused your schedule. We hope that the arrangements we made and assistance provided by our staff were satisfactory. Unfortunately you had another ticket for your flight from Lima – Cusco and we are unable to assume liability for separate contracts.We hope to have the pleasure of welcoming you back on-board our airline sometime soon and replace any negative impressions with a more positive one."

Last, I could only say that I am not the only customer who got unfair treatment. Just type on google with keywords 'Avianca complaints' and enjoy to read! I don't need a second experience to ensure my opinion cause there are so many airlines beating your low prices with a (much) better service and punctuality. Thank you fo the unforgettable moment we had. 
Sebagian dari kita percaya pada frasa ‘kebetulan’, sebagian lagi termasuk saya percaya bahwa sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Beberapa teman saya berkata, “Keberuntunganmu besar, Thella.” Tapi saya kemudian merevisinya, tidak, Tuhan yang terlalu baik memberikan berkat-Nya pada saya melalui orang lain. Dan kali ini saya akan cerita tentang sebuah tangan penuh berkat bernama Dahuni Foundation. Tangan yang tak hanya memberkati saya, tapi telah memberkati banyak anak-anak Indonesia.

28 April 2016 saya diminta untuk menjadi moderator acara Volunteering for Indonesia (VFI). Ini adalah acara tahunan PPI-MIB bekerjasama dengan PPI-UK untuk mengajak kita semua turun tangan membantu pendidikan anak-anak di Indonesia. Ada tiga pembicara yang hadir mengisi rangkaian Talkshow VFI kali ini, yakni Ibu Nizma (Founder Chariots for Children), Shally (alumni Pengajar Muda - Indonesia Mengajar) dan Mba Riyani (Dahuni Foundation). Jujur saja, karena dimintanya dadakan oleh panitia, saya belum sempat berkenalan secara personal dengan para pembicara. Terkecuali Shally, karena kami sesama alumni Pengajar Muda. Yang menarik diantara ketiga pembicara adalah permintaan satu kursi tambahan dari Raeni** karena katanya suami Mba Riyani, Mr Taco Franssen akan ikut berdiskusi. Dari situ saya makin penasaran dengan Dahuni Foundation. Berjalan kurang lebih 4 tahun, Dahuni Foundation* telah menjejak di Indonesia, Thailand, dan Kamboja dengan keseriusannya memberikan beasiswa dan mentorship kepada siswa yang kurang mampu. Tak cukup dengan pemaparan dan sesi tanya jawab, sebelum Mba Riyani pulang, saya meminta kontak beliau. “Let me know if you come to London!” katanya ramah sebelum bergegas keluar ruangan.

After the event 'Volunteering for Indonesia'
21 September 2016 saya berkunjung ke London dan menginap di rumah beliau. Sambutannya sangat hangat, apalagi Mba Riyani dan Om Taco (begitu saya menyapanya akrab) punya seorang anak bernama Nara. Saya yang naturnya sangat menyukai anak kecil tentu senang menghabiskan waktu di sana. Tak banyak waktu yang kami habiskan untuk ngobrol karena saya dan Nara terlalu asik bermain. Namun, saya sempat memperhatikan Mba Riyani begitu konsen dengan komputer di depannya. Iya, beliau sedang mengurus beberapa kebutuhan Dahuni. Salut! Itu komentar saya dalam hati. Ketika banyak orang yang mengeluhkan jarak, Mba Riyani dengan kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, begitu telaten merawat Dahuni dari kejauhan. Ketika banyak pendiri yayasan yang hanya siap mengucurkan dana dan menerima laporan bulanan, Mba Riyani turun tangan bahkan sempat membantu proofreading bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di UK. Mungkin nama Dahuni tak setenar nama lembaga pemberi beasiswa lainnya, tapi bedanya Dahuni tak hanya memberikan dana namun mempersiapkan serta terus meningkatkan kemampuan siswanya di dunia akademis.

Saya juga sempat bercerita tentang kegembiraan saya terpilih menjadi satu dari lima delegasi Indonesia di forum ekonomi internasional APEC 2016 yang akan berlangsung di Peru tanggal 14-20 November 2016. Mba Riyani tak hanya turut senang, tapi juga menyemangati saya agar tak berkecil hati meskipun saya satu-satunya perwakilan yang bukan berlatar belakang ekonomi. Selang seminggu, giliran Mba Riyani dan om Taco yang datang kembali ke kampus saya untuk rapat dengan pihak International Student Officer. Mereka mencari peluang kerjasama agar mahasiswa yang didanai oleh Dahuni bisa punya kesempatan untuk double-degree atau lanjut S2 ke Birmingham. Selesai rapat, beliau berdua mengajak saya dan Raeni untuk ngopi sambil ngobrol sebelum mereka balik ke London. Di tengah obrolan seru kami mengenai project Dahuni bulan November di Indonesia, Mba Riyani bertanya pada saya “Does your scholarship cover all the cost for joining APEC in Peru, Thella?” Saya jawab seadanya, bahwa beasiswa saya menyediakan dana bantuan seminar internasional. Namun, kita harus mempresentasikan penelitian kita dan mereka pun punya batasan maksimal untuk biaya konferensi. Dari beberapa teman saya diinformasikan bahwa ketika dana yang kita keluarkan over budget, maka kita yang menanggung sendiri.

“How much it cost you?” lanjut Mba Riyani. Dari pencarian saya, tiket PP paling murah ke Peru sekitar £500 dan biaya selama seminggu konferensi APEC (termasuk akomodasi dan makan) sebesar $995. Karena dana seminar sifatnya ‘reimbursement’ maka mau tak mau saya harus menalangi terlebih dulu. Itu pun saya tidak terlalu yakin akan diganti oleh beasiswa saya karena ini sifatnya forum bukan seminar. Tapi karena forum ini pasti akan bermanfaat bagi saya, saya akan usahakan agar tetap berangkat. Segurat raut kekhawatiran di wajah saya dibaca oleh Mba Riyani. Beliau kemudian bertatapan dengan Om Taco beberapa saat, entahlah mereka sedang bertelepati apa. Tak lama Mba Riyani bertanya kepada suaminya, “What do you think?” dan Om Taco menjawab “Yes”. Lalu Mba Riyani memalingkan wajahnya dan menyentuh tangan saya sembari berkata “You go to Peru, we will buy your ticket!”

30 September 2016 at University of Birmingham
Tanpa sadar saya langsung menggelengkan kepala, pertanda tak percaya. “No way, is that real?” seloroh saya. Om Taco kemudian membalas, “Do you want us to kidding you?” sambil tertawa kecil melihat muka saya yang masih aneh tak percaya. Kalian bisa bayangkan, baru beberapa saat mengenal Dahuni, dua kali ngobrol dengan pendirinya, dan belum sempat bantu apa-apa di Dahuni. Lalu tiba-tiba akan dibiayai untuk terbang ke Peru? £500 mungkin jumlah yang kecil untuk orang kaya, tapi Dahuni punya anak bukan cuma saya seorang. Ada proyek di tiga negara dan sekian banyak anak yang dibiayai sekolahnya. “Thella, networking is everything. If you meet the right people, you could solve your problem. And sometimes miracle happened just like this” kata Om Taco kepada saya. Saya pun bertanya, “Do you have any condition for me in receiving this? I’d be happy to do.” Tapi mereka hanya menjawab bahwa mereka rindu melihat saya pulang ‘berbeda’ karena lebih ‘berisi’ dan berpengalaman. Mba Riyani pun membekali saya dengan satu kaos hitam Dahuni agar motto “Cultivating dreams, transforming lives, one scholarship at a time” bisa menginspirasi banyak rekan yang saya temui di Peru. Meskipun permintaan mereka sederhana, saya bertekad untuk membuat video singkat yang mudah-mudahan bisa ditaruh di website Dahuni Foundation dan ditonton oleh anak-anak di Indonesia agar mereka lebih semangat belajar. Ya, Dahuni dan segala gerakan positifnya perlu terus disuarakan bukan hanya saat APEC dan kepada jejaring yang saya bangun selama di Peru, tapi untuk seterusnya. Terima kasih, Dahuni dan teruslah memberkati.

Proudly wearing this shirt in Peru
PS: Ini bukan akhir cerita, saya masih punya lanjutan cerita bagaimana berkat yang saya terima melalui tangan Dahuni Foundation ini bisa menular. Ditunggu ya! J

*Lebih lanjut tentang Dahuni Foundation bisa dibaca di http://www.dahunifoundation.com/ Bagi kerabat yang ingin mendaftar, beasiswa Dahuni dibuka bulan Mei dan November.

**Raeni adalah wisudawati terbaik Unnes yang dulu banyak diberitakan karena saat wisuda diantar oleh ayahnya berprofesi sebagai tukang becak. Raeni menerima beasiswa Presiden ke Univesity of Birmingham dan kini telah lulus. Raeni juga merupakan asuhan Dahuni Foundation dan baru-baru ini membantu kegiatan English Camp DF di Boyolali.
"Tidak ada orang yang tak munafik”. Gara-gara pernyataan teman saya ini, saya pun jadi teringat pernyataan setara ‘Seseorang hanya menunjukkan sifat aslinya kepada orang terdekatnya’. Bagi si pemikir macam saya, dua pernyataan ini ampuh mengarahkan saya kepada pertanyaan beranak-pinak. Saya mengingat kembali ada beberapa teman yang cukup menjadi pergunjingan. Di mata orang-orang sifatnya dianggap kurang baik. Saya mungkin dianggap aneh karena malah mencoba mendekatinya. Seseorang bertanya, “Thel, gak salah lu temenan sama dia? Hati-hati nanti malah ketularan buruknya!”. Saat itu saya hanya merespon, “Tiap orang punya sisi baik, tapi tak semua mampu melihatnya.” Benar saja, makin lama saya mengenal mereka, saya menyadari bahwa selalu ada alasan di balik sifat dan sikap.

Tak sekedar teman, saya bahkan dulunya pernah naksir sama pria yang kelihatannya bandel. Dari penampilan fisiknya saja, banyak yang berseloroh kalau dia seram. Badannya lumayan besar, kulitnya hitam, sempat pindah kampus, dan sering bolos kuliah. Beberapa kali jalan bersamanya, saya sempat mendengar celotehan di belakang, “Serius tuh? Kok bisa ya?” Di luar dugaan, saat saya dan beberapa teman main ke kost-nya, dia punya satu rak yang berisi buku-buku dan tumpukan koran. Kejutan lainnya, saat kami pergi liburan berdelapan ke Jogja, saya melihat pria yang kesannya seram ini begitu bertanggungjawab dan membuat kami para wanita merasa aman. Yah, meskipun saya dan dia tidak jadian saat itu, saya akan selalu ingat perkataannya, “Kalau kau mau tanya apa saja kenakalan yang belum pernah kucoba di dunia ini, semuanya sudah kecuali mainin perempuan dan narkoba. Dan tentunya gak akan kucoba-coba.”

Vice versa. Saya pun pernah menjalin pertemanan dengan beberapa orang yang amat-sangat sabar, punya segudang prestasi, dan terkesan sangat positif di ruang publik. Setelah pengenalan cukup lama, si humoris memperlihatkan sisi temperamennya; si inspiratif menunjukkan ketidakpeduliannya; si agamis menunjukkan kebebalannya. Kembali ke dua pertanyaan di awal, apakah ini bukti bahwa semua orang punya sisi munafik? Atau memang setiap orang hanya mau menunjukkan sebenarnya warna mereka kepada orang terdekatnya? Ataukah ini semua bersumber dari satu alasan yakni penerimaan? Cukup masuk akal, tentu setiap orang ingin diterima di lingkungannya dan tidak ada seorang pun yang sengaja ingin dicap buruk. Hanya ada yang sebegitunya mementingkan nilai diri dan ada yang sebegitunya tak acuh terhadap komentar orang. Saya tidak berani berkata tipe yang satu lebih baik dari tipe yang lain karena toh selaku orang dewasa kita sendiri yang memilihnya.

Nah, tibalah pertanyaan itu saya ajukan ke diri sendiri. Saya termasuk kumpulan yang mana? Mungkin semakin banyak kita mengenal karakter orang, makin sering pula kita introspeksi. Urusan sifat seseorang, bukan kapasitas kita mengubahnya sesuai standar kita. Asalkan masih ada respect maka pertemanan masih worth it untuk dilanjutkan. Pesan moralnya: terlalu mudah mengagumi maupun terlalu cepat menghakimi sama-sama kurang baik bagi kesehatan hati.

“Such a same surprise for me seeing the bright side of bad people and the dark side of good people. But if you ask which one I prefer, I am happy to be the few people who find the good in bad.”
Jam sudah menunjukkan pukul 23.23. Saya berpacu dengan waktu dan kemampuan mengetik sebelas jari demi menulis sesuatu yang hampir bikin saya tidak tidur. Ya, mumpung masih 28 Oktober, anggaplah refleksi penutup hari.

Hari ini timeline di semua media sosial saya penuh dengan ucapan ‘Selamat Hari Sumpah Pemuda’. Beberapa rekan berfoto dengan Batik, beberapa video pemicu semangat, dan sedikit diantaranya menulis. Topiknya berbeda namun temanya masih soal nasionalisme. Sempat pula saya menonton kompilasi video PPI Dunia, pesannya sungguh berapi-api, sekelibat soal janji berkontribusi. Saya mungkin satu diantara sekian yang mencoba berpikir lebih menapak tanah. Hal ini berangkat dari apa yang kita lihat (bagi yang masih memerhatikan Ibu Pertiwi dari ribuan mil) akhir-akhir ini.

Konstelasi politik yang memanas dan bisa dibilang menyulut perpecahan cukup mengiris hati saya. Betapa tidak, agama dan ras dijadikan alasan untuk mengotak-kotakkan diri. Padahal kalau ditarik ke belakang, sewaktu jamannya perang dan harus angkat senjata, sepertinya para pejuang tak sempat bertanya soal agama dan ras. Lho, sekarang kok di saat sudah merdeka, malah pikiran kita yang belum se-merdeka itu? Dari jaman SD kita sudah diajari bahwa ada lima agama yang diakui di Indonesia, sekarang enam. Masih tertanam dalam kepala kita pelajaran PPKn tentang Bhineka Tunggal Ika? Ngilu rasanya kalau sekarang timbul gesekan.

Memaknai Sumpah Pemuda ala saya, satu diantara sekian generasi muda yang beruntung disekolahkan jauh ke negeri Ratu Elizabeth, tak perlu sulit-sulit. Cukup ingat kembali sejarahnya dan kaitkan dengan apa yang ada di depan mata. Bagi saya, keberagaman dalam bangsa kita bisa menjadi kekayaan jika makin banyak orang terdidik menebar nilai positif. Namun, keberagaman pun bisa jadi ancaman jika makin banyak orang berpikiran sempit menularkan kebencian. Ah, tapi saya optimis bahwa sesuatu yang baik lebih cepat menular (Amin!)

Akhir kata, saya cuma mau bilang buat pemuda-pemudi (termasuk yang tak lagi muda) bahwa untuk dihargai bangsa lain, belajarlah untuk menghargai bangsamu sendiri. Jika sudah jauh kakimu melangkah, bawalah tak sekedar ilmu, gelar, dan nilai distinction, tapi pulanglah dengan pemikiran yang luas dan solusi atas satu permasalahan bangsamu. Selamat memaknai Sumpah Pemuda, tak hanya hari ini, bukan?


Birmingham, 28 Oktober 2016


Ditemani lagu “Untuk Indonesia” -AFTERFIVE