Salah Siapa?

Leave a Comment
Berawal dari kejadian pagi ini saat saya membuka obrolan di grup Whatsapp, saya jadi teringat beberapa kisah di masa silam yang kalau dipikir-pikir lucu sekaligus ngenes. Sesungguhnya ini terjadi hampir di semua aspek kehidupan saya, tapi kali ini yang ingin saya bagikan adalah perihal relasi dengan lawan jenis. Jarang-jarang juga saya menulis topik ini di blog, jadi tak apalah.

Banyak orang yang beranggapan saya cantik. Jangan buru-buru salah tanggap, ini bukan kepedean apalagi pamer. Saya justru ingin bilang bahwa paras cantik ditambah bonus pembawaan ceria tak selamanya menguntungkan. Kalau sedari awal Tuhan memberi kesempatan untuk memilih, saya mungkin akan request diberikan wajah yang innocent. Mengapa? Karena wajah innocent bisa dipandang cantik, tapi tak semua wajah cantik terlihat innocent. Kalau sedari bayi saya sudah boleh menyuarakan karakter apa yang saya mau dari keluarga, saya mungkin akan request agar dididik menjadi anak yang sedikit lebih pendiam. Nyatanya, saya terbentuk dengan paras dan pembawaan seperti ini, suka tidak suka, mau tidak mau.

Saat SMA, saya pernah berteman dekat dengan beberapa pria, baik seangkatan, kakak kelas, maupun beda sekolah. Mengapa harus dilabeli 'dekat'? Ya, karena kalau dibandingkan dengan teman pria lainnya, mereka lebih sering berinteraksi dengan saya. Kebetulan mereka semua memiliki kemiripan: wajahnya lumayan ganteng, lumayan eksis di sekolah, dan bawa mobil/motor. Satu kali ada seorang pria sederhana yang kelihatannya ingin mendekati tapi saya memilih sekedar berteman dengannya. Sekilas terlihat saya pilih-pilih pertemanan, ya? Sempatlah saya dikomentari 'high-class' oleh segelintir orang, tanpa mereka tahu sesungguhnya saya yang bawel ini agak salting kalau berinteraksi dengan orang yang pendiam. Terbukti pilihan saya jatuh pada seorang pria sederhana, parasnya hitam manis, beda sekolah, dan naik Astrea Grand. 

Saat kuliah, saya lumayan aktif di perkumpulan rohani. Saya sering menjadi Worship Leader untuk persekutuan gabungan dengan fakultas lain. Di situlah saya mulai berkenalan dengan banyak orang, laman sosial saya juga banyak mendapat undangan pertemanan. Sebagai seorang perantau dari Pekanbaru ke Bandung, tentulah saya senang bisa membuka jejaring pertemanan seluas mungkin dan bertukar informasi sebanyak mungkin. Maka tiap undangan pertemanan yang setidaknya memiliki 'mutual friend' pasti akan saya terima. Saya sering berbagi informasi lewat status di Facebook, di luar kuasa banyak yang mengomentari, kebanyakan pria. Berkaca pada pengalaman sebelumnya, saya berusaha menanggapi semuanya dengan baik. Saya tidak mau menjadi orang yang terkesan sombong. Bahkan jika beberapa diantaranya mengajak makan bareng, selagi memang waktunya pas, kerap saya iya-kan. Terlepas dari apa motivasi di balik ajakan mereka, sejatinya saya memang suka berdiskusi. Tapi ternyata, sikap ini pun masih dipandang salah. Saya sempat mendengar seliweran "Jangan mentang-mentang cantik jadi jaga fans." Siapa yang tak emosi mendengarnya? Sayangnya hingga detik ini saya tak tahu siapa oknum yang berkata demikian karena teman saya tak mau sebut nama. 

Padahal, kalau dipikir-pikir, saya juga punya teman yang digandrungi banyak pria. Jelas lebih banyak dari saya dan usaha mereka pun tak main-main. Bahkan ada yang nekat memberikan kejutan kepada teman saya di kampus. Soal makan bareng, beberapa teman pun agaknya berpikiran sama dengan saya. Toh ngobrol biasa, apa salahnya? Tapi komentar yang saya terima berbeda. Beruntunglah yang berwajah innocent karena kedekatan Anda dengan banyak pria diartikan 'wanita ini sulit ditaklukan'. Atau setidaknya Anda cantik nan pendiam, komentar sekeliling mungkin 'wajar lah selektif'. Kalau saya? Ah, paling sopan seputar 'ngasih harapan'. Terlebih saat itu saya justru menjalin hubungan dengan orang yang tak pernah kelihatan alias PDKT-nya bawah tanah. Posisi saya kesannya tambah sulit, ya? Tapi saya berpikir, dari mana kita bisa tahu mana yang cocok kalau kita tak berusaha mengenal beberapa orang? Kalaupun saat itu pilihan saya jatuh kepada orang yang kelihatannya 'tidak memperjuangkan' saya, apa salahnya? Toh yang mengalami kami berdua, yang akan mencicipi pahit manisnya sebuah keputusan kami berdua. Orang lain hanya sebatas memuaskan mata dan telinga untuk apa yang mereka prediksikan.

Setiap orang adalah pembelajar yang baik. Saya memang tidak terlalu ambil pusing sama apa kata orang, tapi perihal citra diri, kita tak perlu munafik, siapa yang tak mau terpandang baik? Terlebih kalau saran dari beberapa orang tujuannya adalah membuat saya lebih baik, apa ruginya untuk saya mencobanya? Pada dasarnya semua manusia diberikan kepekaan dan nalar oleh Tuhan. Saya yakin bahwa wanita yang konon katanya perasa, bisa merasakan maksud dari lawan jenis yang mencoba mengenalnya lebih dalam. Apakah hanya ingin berteman atau berharap lebih, rasanya sudah bisa diprediksikan dari interaksi yang dibangun. Karena itu, ketika saya merasa bahwa ada pria yang ingin lebih dari teman, namun saya tak memiliki ketertarikan padanya, saya tegaskan dari awal melalui sikap. Tujuannya agar tak menimbulkan 'harapan' dan dia bisa berfokus ke yang lain. Entahlah ini terkesan baik atau jahat karena seolah tak memberikan kesempatan. Tapi katanya, kalau mau mengenal seseorang lebih dalam, baiknya fokus dan gali cukup lama. Secara psikologis, seseorang akan menunjukkan jati dirinya hanya kepada orang-orang terdekatnya. Ini berarti, sebelum saya memutuskan seseorang menjadi pasangan saya, saya harus cukup lama berinteraksi dengannya hingga saya kenal dia secara utuh.

Berbeda dengan kebanyakan orang yang bisa menjelaskan mengapa dia memilih orang tersebut menjadi pasangannya, saya justru bingung ketika menerima pertanyaan itu. Semua orang bisa menerima kelebihan seseorang, namun tak semua orang siap menerima kekurangan. Saya selalu berprinsip kalau punya pasangan yang punya banyak kelebihan, itu bonus. Yang terpenting adalah saya harus tahu apa kekurangannya dan mampukah saya melengkapi kekurangan itu. Kalaupun ada karakter atau perilaku yang kurang baik, saya akan tanya ke diri saya: mampukah saya dan dia, ke depannya, berbenah memperbaiki hal tersebut? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tentu butuh waktu yang tidak sebentar. Pengenalan seperti wawancara dalam asesmen pekerjaan. Pertimbangan membangun sebuah hubungan juga tak sesimpel rasa sayang dan perjuangan yang besar. Amat disayangkan, pembelajaran saya ini ditangkap dengan kesan yang salah. Kebanyakan berkomentar, "Kalau sudah ada yang cocok jangan dibikin rumit" atau "coba lihat perjuangannya" atau seperti di grup Whatsapp tadi pagi "didoakan lah, kalau masih digantung lagi, bantu promoin". Kesannya saya jahat sekali ya, sudah diperjuangkan malah tidak memberikan kepastian.

Sedikit klarifikasi, bukan pembenaran. Jika ada yang berpikir saya senang dikejar-kejar, usia saya tak lagi muda untuk itu. Sudah lewat masanya saya senang dengan berbagai kejutan. Dulu mungkin saya senang tipe hubungan layaknya Coca-Cola, tapi saat ini saya cari hubungan layaknya air putih. Jika ada yang berpikir saya punya kriteria rumit untuk seorang pasangan, saya justru punya prinsip 'Di atas langit masih ada langit'. "I am not searching for a man of the world, I just need a man who want to build our world together." Jika ada yang berpikir saya menggantungkan kepastian, semua orang butuh kepastian termasuk saya. Sayangnya, kepastian di dunia ini hanyalah ketidakpastian itu sendiri. Satu-satunya yang bisa memberikan kepastian akan sebuah hubungan cuma Dia. Jika ada Dia di tengah-tengah saya dan siapapun dia, maka pasti benar dan pasti jadi. Jika belum, mungkin Dia punya rencana lain.

Jika beragam cara sudah dicoba dan tulisan ini pun sudah mewakili isi hati, tapi pandangan sekitar masih sama, bisa jadi salah muka saya yang terlalu antagonis, atau salah pembawaan saya yang seolah tanpa beban, atau salah yang terlalu cepat menyimpulkan? Positifnya, anggap sajalah masing-masing kita diuji sebelum akhirnya diberi yang terbaik.


Birmingham, 11.10.16, 11.11 PM

Ditemani dingin dan hati sendu.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda