8 Jam Bertahan

Leave a Comment


Pics speak louder than wordsMungkin foto-foto yang sudah saya upload di FB cukup menggambarkan bagaimana indahnya Maluku Tenggara Barat, sebuah Kabupaten yang asing didengar bahkan tak pernah terpikir sebelumnya. Sebagai prolog, saya Pengajar Muda MTB yang setahun ke depan bertugas di Desa Adodo Molu, Kecamatan Molu Maru. Rutenya, dari Jakarta - Ambon - Saumlaki (Ibukota Kab.MTB). Dari Saumlaki bisa menggunakan kapal feri (Egron) atau Sabuk 31 Nusantara. Saumlaki- Larat - Adodo Molu ditempuh sekitar 26-30 jam. Dapat dibayangkan apa saja yang dapat dilakukan di atas Laut Banda selama itu? Nah, kapal feri ini tidak selalu sampai ke Adodo, kalau musim angin Barat atau Timur dimana angin dan ombak sangat 'menjadi', feri bisa saja sampai Larat. Dari sana, lanjut dengan motor laut, sejenis perahu besar dengan mesin. Bayangkan kembali, kalau feri yang sebesar itu saja mampu diombang-ambingkan ombak, bagaimana goncangan di motor laut?

Saat awal dari Saumlaki menuju Adodo, tidak ada masalah berarti karena cuaca masih baik dan kami naik feri. Seminggu masa transisi di desa, aku dan Eko, rekan Pengajar Muda yang bertugas di desa Wadankou, berbaik hati mengantarkan Pengajar Muda stok lama, Billy dan Dhimas hingga ke Saumlaki. Karena menyesuaikan dengan kapan feri atau Sabuk 31 balik ke Adodo terlalu lama, akhirnya kami menyewa motor laut untuk sampai di Larat. Nah, angin sudah masuk musimnya, ini dia tantangannya! Bukannya berdoa supaya kenapa-kenapa, tapi antisipasi itu harus. Kami menyiapkan baju dan barang lainnya di dalam dry bag, membawa life jacket, dan tidak lupa berdoa. Kebetulan di motor laut kami, ada Dokter kecamatan, 3 orang guru, dan beberapa anak-anak yang ikut mengantar. 
MULAI BERLAYAR!
Ombak masih bersahabat dalam 1,5 jam pertama, kami masih bisa duduk di papan paling atas, berfoto-foto dan tertawa. Namun tiba-tiba motor laut kami menepi ke darat, kami disuruh singgah di Desa Tutuna Metal karena angin sedang kencang-kencangnya. Satu sisi senang, ibarat tur ke desa lain yang pantainya sangat jernih dan indah. Tapi di sisi lain kami takut sampai Larat kemalaman. Yah, tapi melihat air biru jernih, rasanya saya tak bisa menahan diri untuk lompat dari motor laut dan berenang. Meskipun dilarang oleh Ibu Latu karena perjalanan masih panjang dan nanti takut kedinginan, tapi saya terlanjur nyeburkegirangan. Puas mempraktekkan berbagai macam gaya dan berfoto, kami dipanggil untuk makan di rumah bapa pendeta. Pulangnya masing-masing kami membawa kelapa muda dan siap untuk melanjutkan perjalanan.
Betul saja, baju yang basah kuyup ditambah angin laut yang kencang, cukup membuat saya kedinginan. 2 jam pertama masih tidak berasa karena diselingi tawa, selanjutnya awak motor meminta kami yang duduk di papan atas untuk turun kebawah karena ombak mulai tinggi. Karena saya satu-satunya Pengajar Muda perempuan, jadi benar-benar dijaga. Namun memang dasarnya bolang dan si ingin tahu, jadilah apapun yang dilakukan PM laki-laki, itu pula yang saya ikuti. Tanpa takut saya berdiri di sisi kanan motor laut dan menikmati goyangan setiap kali ombak datang. Rasanya? Seperti main kora-kora di Dufan, namun ekstrimnya karena ini LAUT BANDA! 
"Ibu Thella, seng bobar ka? Mari sini sudah, ombak su kincang sekali e, awas jatuh duduk di pinggir macam itu"
Aku malah sibuk berteriak "Wohoooo..." saat ombak menggoyangkan motor laut, sambil lihat-lihatan dengan Eko yang sibuk keceplosan dengan Jawa medoknya.
"Memang e, Ibu Thella ini seng ada lawan. Jang ikut-ikut bapa dhimas deng bapa billy, dong su sering"
Balasku, "Seng apa-apa Ibu, bet su pegang kuat ini. Nanti sa kalau mangantuk baru bet gabung kesana la"
Baju yang basah tak kunjung kering karena kami kerap tersiram air laut saat ombak, mata yang terkena air asin pun rasanya mulai mengantuk. Melihat anak-anak yang sudah tidur pulas di papan bawah, saya tidak tega harus membangunkan untuk meminta mereka geser sedikit. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kembali ke papan atas dan tidur telungkup sambil tangan kencang memegang papan. Entah apa yang dipikirkan awak motor yang tertawa kecil melihat saya, mungkin mereka bingung saya perempuan atau laki-laki. Ya sudahlah, namanya juga MoMar's Brothers, sebutan untuk PM Adodo dan Wadankou dari tahun pertama. 
Tertidur 1,5 jam, Eko membangunkan saya. Alangkah kagetnya melihat hari sudah gelap, tidak ada bintang, kami khawatir hujan. Tapi Tuhan memang atur semuanya baik, hujan tidak turun. Kami disuruh awak motor pindah ke bawah karena ombak semakin menjadi. Angin malam menusuk hingga ke tulang, saya mulai kedinginan. Cipratan ombak terus-menerus membuat saya tidak bisa tidur. Akhirnya saya memutuskan untuk balik badan dan meringkuk, tak lama kemudian Nindy, salah satu anak, memeluk saya karena dingin. Saya sempat lihat Billy tidur dengan posisi duduk di pojok kanan motor, Eko tidur di dekat barang-barang. Satu hal yang kami pikirkan hanya sanggup bertahan melawan dingin beberapa jam lagi. Saya rasakan motor laut bergoyang makin kencang, ke kanan-kiri, sesekali sudah sangat miring terlebih saat melewati selat Wayangan. Kata awak motor, ini hitungannya masih biasa, kalau sudah musim angin Timur, ombak di selat lebih jahat dan tidak jarang banyak speed yang terbalik. Satu kata dalam hati saya, "Ba..ik..lah.." sambil menarik nafas panjang.
Kurang lebih 3 jam kami mencoba berteman dengan sapuan angin laut di malam hari, berharap mereka tak terlalu galak. Apalagi kami tidak membawa persediaan air minum dan makanan, dalam kondisi lapar dan kedinginan cukuplah membuat cemas. Lagi-lagi Tuhan itu baik! Kami akhirnya sampai di Larat sekitar jam setengah 9 malam. Dengan baju yang masih lembab, perut keroncongan, dan masih harus berjalan kaki menenteng bawaan yang cukup berat, kami patut bersyukur karena sampai dengan selamat.
"8 jam di atas Laut Banda, bertahan melawan angin dan ombak, bertahan melawan dingin dan lapar." - MRRS
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda