Pesparawi (II): Makin Dekat Makin Sulit

Leave a Comment
Waktu terus berjalan tanpa mau kompromi dengan Panitia Pesparawi di Molu Maru. Banyak hal yang harus dibenahi, tapi hanya sedikit yang berpartisipasi. Hingga saat ini yang menjadi pergumulan memang terkait rasa memiliki masyarakat terhadap pesta iman ini. Padahal berulang kali dalam setiap kesempatan, Ketua Panitia Pesparawi, Bapak Pendeta Betoky, menyentil kepedulian masyarakat. Saking bingungnya mana yang harus disiapkan dulu, seandainya bisa pasti panitia tidak berpikir dua kali untuk membelah diri. Riak-riak kecil bermunculan karena semua dalam kondisi panik, padahal justru dalam keadaan dilema seperti inilah kesatuan hati panitia dibutuhkan. Sekarang bukan saat yang tepat untuk mempersalahkan, semua harus rela bekerja siang malam demi Pesparawi. Dalam mempersiapkan kontingen, terjadi dilema pemilihan solis untuk tiap kategori. Ada yang mau tapi tidak sesuai kriteria, ada juga yang dinilai cocok tapi enggan untuk ikut. Lagi-lagi rasa malu hati yang terlalu tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam menetapkan sejumlah nama. Akhirnya dengan pertimbangan matang, muncullah nama-nama yang siap membawa nama Molu Maru dalam setiap nada yang dilantunkannya. Suara mereka mungkin cukup merdu, tapi teknik bernyanyi yang masih salah dan kurangnya rasa percaya diri membuat Bapak Pendeta Betoky harus bekerja ekstra. Belum lagi kecenderungan ritme latihan yang suam-suam kuku, kadang membuat Bapak Pendeta Betoky rasanya ingin angkat tangan. Saat sang ketua panitia harus mengurus keperluan Pesparawi di Saumlaki, semua seperti ayam kehilangan induk. Ya, inilah resikonya kalau satu orang merangkap begitu banyak tugas. Tim paduan suara dewasa mulai absen latihan, seksi acara juga kurang terawasi, dan solis entah bagaimana nasibnya.

Saya selaku panitia kesekretariatan merangkap peserta paduan suara pemuda dan penerima tamu, dititipi tugas oleh beliau untuk mengontrol latihan paduan suara dan pengisi acara. Di sisi lain, saya juga harus mengurus rumah dan dua orang adik piara. Untunglah saya begitu menikmati latihan menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik selama beberapa hari ini. Jadi, yang perlu saya pikirkan hanyalah bagaimana membagi waktu antara jadwal latihan fisik, menyanyi, membantu seksi acara mengawasi latihan para pengisi acara, dan memberanikan diri untuk melatih para solis. Saya bukan orang yang mahir akan kunci nada atau sering menjuarai kontes menyanyi, tapi tidak ada pilihan lain untuk membuat para solis betah latihan. Malam hari sebelum tidur, saya mempelajari nada dan lirik setiap lagu, mencoba menyanyikannya, dan membuat jadwal latihan seperti uji panggung sungguhan. Para solis mencabut nomor undian yang seterusnya akan digunakan setiap kali mereka latihan. Saya pun berlaga sebagai MC sekaligus juri bagi mereka. Mulai dari nada, teknik ambil nafas, hingga kesesuaian lirik dengan ekspresi, semua saya komentari. Kadang dalam hati bertanya sendiri, mimpi apa saya bisa melatih mereka bernyanyi? Mungkin demi Pesparawi, Tuhan meminjamkan talenta bernyanyi kepada saya. Harapan saya sederhana, di tengah keterbatasan, para solis mampu menampilkan dirinya yang terbaik. Sekalipun tidak semerdu solis dari kecamatan lain, yang terpenting mereka bisa menyanyi dari hati sehingga makna lagu bisa sampai ke setiap telinga yang mendengar.

Sekembalinya sang ketua panitia, rapat pun digelar untuk membahas tentang akomodasi peserta dari seluruh kecamatan selama acara. Awalnya, Lembaga Pesparawi Kecamatan dan panitia melakukan sosialisasi untuk meminta ke lima desa menyiapkan rumah-rumah layak tinggal dan kerapihan desa dalam menyambut tamu. Mobilisasi ke desa Adodo sebagai lokus acara diupayakan dengan motor laut yang siap sedia tiap desa. Rancangan ini amat baik untuk sekaligus mengenalkan peserta dengan budaya dan keakraban masyarakat masing-masing desa. Namun, di tengah jalan, Bupati dan Lembaga Kabupaten memiliki kekhawatiran akan sulitnya mobilisasi di musim angin Barat. Akhirnya dengan berat hati diputuskan bahwa akomodasi seluruh kontingen dipusatkan di desa Adodo Molu. Panitia Pelaksana bingung bagaimana caranya menyampaikan kabar mengecewakan ini kepada tiap-tiap desa, sementara mereka terlihat antusias menata dan membenahi rumah-rumah di desa. Untuk menghindari kekisruhan di tengah sibuknya persiapan Pesparawi, panitia memutuskan untuk merahasiakan sementara kabar batalnya pembagian akomodasi ke desa-desa. Namun, bibir.net (istilah dari Alm. Adit untuk gosip melalui mulut ke mulut) menyebarkan kabar tersebut secepat kilat. Sudah banyak yang bertanya-tanya tentang kepastian akomodasi Pesparawi di Molu Maru. Malam hari, saat rapat evaluasi bersama dengan Lembaga Pesparawi Kabupaten, persoalan akomodasi kembali dibahas. Bapak Kades yang menjadi ketua seksi akomodasi ternyata belum matang mempersiapkan pembagian di rumah-rumah dan fasilitas umum. Begitu pun dengan ketua seksi perlengkapan dan dekorasi yang masih mengambang dalam melaporkan progresnya. Sementara itu mata saya memerah, bukan karena mengantuk tapi karena memikirkan perasaan warga desa yang sudah berkorban baik tenaga, waktu, dan uang untuk menyiapkan rumahnya dalam menerima tamu. Mendekati hari-H justru persiapan terasa semakin sulit, mungkinkah ini karena banyak hati yang kecewa dan kurang mendukung dalam doa kelancaran acara ini? Ingin rasanya bersuara kepada panitia agar ada kunjungan ke desa-desa lalu menjelaskan baik-baik alasan pembatalan dan meinta maaf dari hati kepada, paling tidak bisa membalut luka kekecewaan mereka. Namun, rasanya tidak mungkin mengingat semua panitia sedang diberdayakan mengerjakan tribun dan menyiapkan acara. Selain itu, curah hujan yang tidak menentu dan ombak yang kencang menjadi penghambat untuk keluar kampung.

Pagi harinya saya mendapat sms dari salah satu radio di kabupaten yang bertanya, ‘Sore, katanya gedung serbaguna di Momar robo krn hujan y?’ Tanpa pikir panjang saya langsung membalasnya, ‘Wah, banya ska gosip ttg Momar memang. Bet sampe bingung mo jawab bemana’ (Wah, banyak sekali gosip tentang Molu Maru. Saya sampai bingung mau jawabnya seperti apa). Sejak ditetapkan menjadi tuan rumah Pesparawi ke-II, Molu Maru ibarat artis yang sedang naik daun. Sampai bosan rasanya saya menjawab segelintir gosip terkait persiapan Pesparawi di Molu Maru. Bahkan rekan saya sesama Indonesia Mengajar pun sedikit banyak terpengaruh gosip dan keranjingan mempertanyakan kembali. Bapak Piara saya, yang merupakan Ketua Panitia, sempat mengajak saya berkelakar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kami sepakat menjawab kalau Pesparawi ditunda tahun depan tepatnya di bulan Maret, karena pada bulan itu kami berulang tahun. Kami memang tidak mau ambil pusing dengan pendapat orang-orang, toh banyak hal yang lebih layak dipusingkan terkait persiapan Pesparawi. Hari Minggu menjadi hari unjuk gigi kontingen di gereja sekaligus pengukuhan kontingen oleh Bapak Camat Molu Maru. Tiap kategori sudah terlihat cantik dengan kostumnya dan siap menguji rasa percaya diri menyanyi di depan banyak orang. Dari pengamatan saya, pertandingan sengit akan terjadi antar paduan suara remaja/ pemuda. Saya yang merupakan bagian dari tim paduan suara juga merasa terbeban karena tahun 2011, tim Molu Maru mendapat juara 3. Kami harus bisa meningkatkan prestasi atau minimal mempertahankan gelar. Dengan segala keterbatasan, kami berjanji untuk tampil semaksimal mungkin. Yang tua pun tidak mau kalah, meskipun salah satu kecamatan besar sudah menjagokan tim paduan suara dewasanya akan merebut juara 1, namun paduan suara dewasa Molu Maru tetap optimis.


Hingga akhir tulisan ini saya ketik, tertanggal 26 November 2013, siang hari yang amat cerah, masyarakat Adodo Molu masih terlalu sibuk sembari menunggu kedatangan Feri yang membawa kontingen. Dalam hati saya sering berkata, “Tete Manis e, tolong katong jua. Kasi cuaca bae-bae ka sampe acara selesai biar dong pulang pu kesan bagus par Molu Maru” (Tuhan, tolong kami. Berikan cuaca yang baik sampai acara selesai agar mereka pulang membawa kesan bagus untuk Molu Maru). Kami tahu bahwa tanggung jawab ini terlalu berat jika kami paksa pikul dengan kekuatan sendiri, karena itu kami berserah kepada Tuhan atas segala yang telah kami kerjakan. Seperti motto yang dikumandangkan tiap kali tim paduan suara latihan fisik, ‘Molu Maru...bersatu untuk maju, mati sama juga’, itulah yang akan kami perjuangkan bersama.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda