WOMAN REFLECTION: What is enough, enough?

Leave a Comment
Ini adalah tulisan perdana penulis yang dipublikasikan lewat akun pribadi tanggal 27 November 2010.

Dolce far niente (kesenangan tanpa berbuat apapun), itulah yang kualami. Menjauh dari hiruk-pikuk, rutinitas, dan kebersamaan dengan teman selama dua hari ternyata tidak buruk. Aku bisa mengambil waktu untuk refleksi atas segala kelebihan dan kekurangan, introspeksi atas apa yang kulakukan, dan memperoleh fakta yang mengejutkan! Waktu yang berharga itu adalah 261110 di toko You, Bandung dan 271110 di shafa yogurt, Jatinangor. Terdengar autis mungkin saat aku lbh memilih makan sendirian di tengah keramaian, but i feel comfort and happy in 'me time'' just for unknown reason. Apapun kata orang, menurutku ini adalah hal wajar dan justru penting dilakukan dalam hidup. Ada saat dimana kita perlu waktu pribadi untuk menyadari bahwa lingkungan (kuliah, sahabat, tempat2 ramai, orangtua, namun tidak utk Tuhan) mungkin menutup mata kita untuk melihat siapa kita yang sebenarnya? Entah ilham darimana, aku merasa waktu inilah yang tepat dan puji Tuhan apa yang aku putuskan berbuah baik. Aku sadar diciptakan dan ditempatkan di dunia, di tengah zaman, dan diantara orang2 sekarang ini untuk memberkati. Karena itulah aku membagikan cerita ini pada kalian, para gadis ataupun yang sukses menjadi seorang wanita.

                     Aku lebih merasa layaknya sebuah pion dalam pertarungan daripada seorang manusia. Mungkin aku pandai, percaya diri, cerdas, dan efektif, tetapi ada sesuatu dalam diriku yang masih ringkih dan tidak aman. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, seorang Marthella mungkin dikenal banyak orang karena aktif, disukai lawan jenis karena cantik, dipandang karena intelek, dikagumi karena sifatku yang dewasa dan disenangi karena mudah beradaptasi. Ya, itu yang aku dapat dari penilaian teman-temanku. Namun, kelebihanku di atas tidak bisa membuatku merasa cukup. Setiap pujian yang dilontarkan membuatku senang dan bangga, namun itu tidak bertahan lama. Semakin sering aku dipuji, aku semakin berambisi untuk naik tingkat. Aku cukup rendah hati untuk menerima kritikan dari siapapun karena kuanggap membangun, saat dikritik aku juga makin termotivasi untuk berubah jadi lebih baik. Seorang teman pernah berkata padaku, "Kamu gadis yang beruntung, Thella. Cantik, pintar, dikenal, cukup religius, dan selalu tampak ceria. Bersyukurlah karena Tuhan menempahmu dengan sangat baik, jangan terus mengeluh." Namun, tidak jarang aku mengeluh bahwa 'aku ingin langsing dan tinggi, aku ingin seperti (orang lain) yang lebih pintar, aku ingin papa mengizinkanku pacaran, aku ingin berlimpah materi supaya bisa membeli barang2 branded, aku ingin . . .' Keluhanku seringkali membuat orang-orang di sekitarku merasa geram, responnya bisa "ah..nuntut terus!; ga bisa bersyukur nih orang!; kalo kamu yang udah BEGINI aja masih ngeluh, gmn aku ya? bunuh diri aja kali.; atau alahhh..merendah untuk ditinggikan nih si Thella!". Hei, taukah kalian kalau aku benar-benar merasa kosong dalam pencapaianku? Aku bersyukur (terimakasih, puji Tuhan, berdoa) namun belum sampai tahap berempati terhadap diriku sendiri.


"Self-approval dan penghargaan diri yang tinggi bukan karena prestasi tetapi hanya karena kita hidup -- adalah produk pengalaman masa kanak-kanak" (Heinz Kohut).
"Dilemanya adalah ketika kita membenci sekaligus menyenangi suatu perubahan, yang kita inginkan berbagai hal tetap sama tapi lebih baik" (Sidney Harris)

                   Aku menyadari kalau aku salah karena tidak bisa menerima diriku apa adanya, selalu merasa ada sesuatu yang kurang padahal orang melihatku sudah berlebih, dan selalu membandingkan diriku dengan sosok lain yang kuanggap lebih baik. Namun, aku baru sebatas "sadar" belum "sehat" secara pemikiran apalagi perilaku yang menunjukkan kalau aku benar-benar bahagia atas hidupku yang sekarang. Aku selalu berusaha untuk bisa berkata "CUKUP" namun saat itu pula aku merasa semakin kurang. Aku sering bertanya dalam hati sesaat sebelum tidur "kenapa aku sulit merasa cukup? apakah aku seseorang yang workaholic, overachiver, atau unfulfiller? apakah aku terlepas terlalu jauh dari pribadiku yang sebenarnya?" Hal-hal yang sering menjeratku antara lain:
  1. Tidak pernah merasa sebagai pribadi yang penting: aku ini siapa sih? standarlah, masih banyak yang lebih di atasku.
  2. Kepercayaan diriku sering naik-turun secara drastis: kadang merasa mantap, kadang merasa takut sebelum memulai.
  3. Mencari sesuatu yang lebih: aku jarang melihat apa yang sudah kumiliki, tapi berusaha memotivasi diri untuk lebih lagi.
  4. Berusaha untuk MEMBUKTIKAN diri, bukannya MENJADI diri sendiri: menyenangkan ortu, membuat sahabat nyaman, membanggakan orang yang aku sayang, beradaptasi agar diterima, dan menyembunyikan kesedihan yang aku rasa.
  5. Mengerahkan seluruh kemampuan demi mendapat apa yang kuinginkan, padahal belum tentu itu kubutuhkan.
                   Aku loncat bolak-balik diantara kenyamanan dan kendali, tapi tanpa membiarkan siapapun menolongku! Aku selalu berempati kepada orangtua, teman, keluarga, bahkan orang yang baru aku kenal. Hingga pada suatu titik perenungan, aku mendapati bahwa aku terlalu sibuk untuk memperhatikan orang lain tanpa berusaha berempati akan diriku sendiri. Apakah aku berusaha menjadi yang terbaik memang untuk diriku sendiri atau karena suatu ketakutan akan kehilangan dukungan dan penerimaan dari lingkunganku? Apakah aku benar-benar diriku yang sesungguhnya atau hanya "pribadi semu" yang dipertontonkan?

                   Until this second, i realized that: i never feel enough, i always feel unfulfilled, even i force myself to be the best in my nineteen years life -- maybe that's not me. I found many reasons which can explain, why I'm not live for my needs just for others will. Singkatnya, aku hanya memaparkan tiga sebab utama yang mempengaruhi kehidupanku di masa dewasa ini.
Pertamadari dalam diriku sendiri. Aku berprinsip, terpacu untuk sukses, namun kurang ekspresif. Prinsip yang aku ciptakan memang dibuat secara sadar, namun aku tidak tahu standar siapa yang kulekatkan. Terlalu berpikir positif dan menganggap semuanya bisa kulakukan sendiri, sehingga saat apa yang kutuju tercapai, aku merasa mampu untuk menaklukkan yang lebih sulitNamun, saat gagal, aku sering memaksa diriku dengan motivasi yang lebih keras. Aku sering menyembunyikan apa yang kurasakan, sesedih apapun, sesulit apapun, segembira apapun karena aku tidak mau terlihat berlebihan di depan orang lain.
Kedua, dari lingkungan terkecilku. Orangtuaku tegas dalam mendidik, selalu menampilkan kesuksesan yang mereka raih, dan menanamkan prinsip yang ideal. Papa membentukku menjadi gadis kecilnya yang berprestasi, tahu adat, dan patuh terhadap orangtua. "Kamu pintar yang bangga itu kamu, kamu bodoh yang malu ya kamu. Cantik, pintar, dan punya banyak teman TIDAK CUKUP kalau kamu tidak tahu adat sebagai orang Batak. Kamu harus dikenal sebagai Sirait! Anak papa cuma satu, jadi senangkanlah papa selagi hidup dengan menuruti apa yang papa katakan. Ini semua untuk kebaikan kamu." Mama mengajariku agar tidak bergantung pada orang lain, meskipun wanita harus kuat dan tegas, serta memilih lelaki harus yang terbaik."Kamu harus mandiri, jangan bergantung sama teman untuk maju. Jadi perempuan itu harus tegas biar tidak dipermainkan dan apapun masalahnya harus kuat jadi tidak diremehkan orang. Kalau memilih lelaki harus tepat, jangan asal liat wajah, otak, dan pribadinya saja tapi juga keluarganya agar kamu tidak menyesal nantinya."  Mereka membentukku menjadi pribadi yang ideal menurut versinya, mungkin terselip unsur penggantian atas kegagalan pencapaian di masa lalu sehingga mereka tidak ingin itu juga terjadi di masa mudaku. Aku bertindak atas kendali yang kadang tak sepaham, bahkan sering bertentangan dengan apa yang aku mau. Inilah akar dari perasaan selalu merasa kurang dalam diriku. Tidak jarang mereka memotivasiku dengan "Contohlah si (ini), dia bisa lebih kenapa kamu cuma segini" sehingga aku merasa mampu menyaingi siapapun dan ini pula yang menjadi akar dari mengapa aku sering membandingkan diri dengan orang lain.
Ketiga, dari lingkungan dimana aku berinteraksi. Pertemanan sejati sulit ditemui, selalu ada asas manfaat. Kelebihan yang kumiliki adalah alasan mengapa aku punya banyak teman dan sahabat pun menjadi seseorang yang sangat dekat pasti ada "karena". Saat aku sadar bagaimana aku yang sesungguhnya, muncul rasa takut akan kehilangan penerimaan dari lingkunganku ketika aku bukanlah pribadi yang seperti mereka harapkan. Inilah yang membuat aku sulit untuk lepas dari jerat kesemuan. Contoh lain, saat aku dan yang lain merasa bahwa temanku cukup kurus, dia masih mengeluh karena merasa gendut. Bergaul dengan orang jenis ini yang membuat aku merasa WAJAR kalau masih merasa kurang, toh dia yang sudah pas saja masih mengeluh. Satu tahap yang harus dilewati dalam hidup adalah narcisistis dimana seseorang menyatakan rasa puas dan bangga atas hidupnya. Di masyarakat, narsis dianggap hal yang kurang wajar sehingga 'timbul rasa gelisah bahwa aku tidak cukup baik dalam menjalani hidup' dan karena itu sulit merasa puas (luka narcisistis).
Bukan sekedar penyadaran, tapi dua hari berharga dalam hidupku juga memberikanku solusi. What should I do?
  • Jangan bersikap terlalu keras ketika merasa gagal, mungkin sebenarnya aku tidak butuh pencapaian itu.
  • Jika gagal, jangan melakukan cara yang sama dengan lebih keras, namun sadarilah apakah itu benar tujuan atau ketakutan?
  • Jujur dengan apa yang kurasakan dan ekspresikan saja.
  • Jangan berkutat dalam rasa tidak puas tapi lepaskanlah.
  • Sadar bahwa aku unik dan tak ada yang mampu menyamaiku.
  • Introspeksi terhadap hal apa yang sering membuatku frustasi: keterikatan atas prestasi atau sekedar kompensasi?
Diantara apa yang kurasakan, mungkin kalian juga mengalaminya. Aku ingin memberikan hal berharga yang dapat kalian jadikan pedoman saat kalian merasa 'tidak pernah cukup', yaitu:
#Saat selalu merasa ada yang kurang, carilah dirimu yang sebenarnya.
#Saat selalu merasa cemas, carilah kepercayaan.
#Saat selalu merasa bosan dan gelisah, carilah kompetensi.
#Saat tak dapat menemukan pasangan yang tepat, carilah cermin.
#Saat merasa apa yang kau peroleh selalu lebih kecil daripada yang kau berikan, carilah kendali.
#Saat tak henti membandingkan diri dengan orang lain, carilah identitas.
#Saat selalu menginginkan apa yang tak kau miliki, carilah rasa aman.

Aku berusaha keras untuk berempari terhadap diriku sendiri. Aku tahu menerima diriku apa adanya itu sangat sulit dan butuh waktu yang tidak sebentar. Tapi terlalu sayang membuang waktu dengan kesemuan, aku ingin menjadi Thella yang sebenarnya, bukan yang X inginkan. Don't like or even love me because of what i did, but just who I am!


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda