Peluk

Leave a Comment
“Hi, are you good?”, kalimat yang spontan keluar setiap kali berpapasan dengan teman di kampus. Tak hanya itu, yang terasa berbeda saat berkuliah di sini adalah keramahan dengan cara memeluk tiap bertemu. Jika sesama teman perempuan sih sah-sah saja. Nah, kalau punya teman lelaki asing dan spontan memeluk, harus gimana dong?

Selama setengah tahun hidup di Inggris, mungkin ketika saya berpapasan dengan teman asing sambil memeluk, saya merasa itu hal yang biasa. Tapi ketika beberapa hari yang lalu, saat saya dihampiri oleh salah satu teman pria asing di perpustakaan kampus dan dia menyapa sambil memeluk, tak sengaja samar-samar saya mendengar komentar dari teman Indonesia saya “Eh..eh..main peluk aja”. Dua hari kemudian, saya berdebat kecil dengan teman saya soal pelukan yang tidak lazim dalam pola pertemanan ala orang Indonesia. Dari situ saya baru tersentak, ternyata meski sama-sama tinggal di luar negeri, tidak semua orang Indonesia beranggapan pelukan dengan teman itu hal yang biasa.

Jika kita melihat dari kaca mata moral ‘orang Timur’, memeluk lawan jenis yang hanya berstatus teman rasanya kurang pantas. Terlebih kalau dalam agama, singkatnya ‘bukan muhrim’. Namun jika kita melihatnya sebagai bentuk adaptasi budaya, pelukan sebagai simbol keramahan rasanya tak perlu dipermasalahkan. Toh teman asing kita berlaku sama kepada setiap teman yang dijumpainya, bukan hanya kita seorang, jadi jelas tak ada intensi berlebihan. Kemudian muncul pertanyaan, ‘Jika kita tidak mau dipeluk, apa berarti kita tidak ramah dan tidak bisa punya teman asing?’ Tidak juga. Karena sepengalaman saya banyak juga teman kampus saya yang hanya menyapa tanpa memeluk.

Subjektifnya, saya merasa beberapa teman asing yang spontan memeluk lebih respect dan terbuka terhadap pertemanan dibanding yang tidak. Contohnya, dari sekian banyak teman asing di beberapa kelas yang saya ambil, saya hanya punya delapan teman perempuan dan dua teman laki-laki, yang sering memeluk saya tiap bertemu. Namun, justru kesepuluh orang inilah yang memang tak hanya sekedar kolega di kampus. Kami tak hanya menghabiskan waktu untuk berdiskusi soal kuliah, namun juga bercerita panjang lebar hal lainnya. Obrolan yang tak sebatas di kampus tapi juga via Whatsapp atau saat potluck diner rumah teman lainnya.

Paparan saya di atas bukan bermaksud mengotakkan jika ingin punya teman asing yang akrab maka harus bersedia dipeluk. Poinnya bukan pula soal minoritas yang menggunakan pelukan sebagai sapaan berarti sudah kebarat-baratan dan mayoritas yang tidak bersedia dipeluk berarti cukup prinsipil terhadap nilai-nilai ke-Indonesia-an. Saya hanya ingin menggarisbawahi bagaimana kita tidak memparalelkan perbedaan pandangan dengan penilaian. Kita berhak untuk setuju atau tidak setuju dengan sapaan memeluk, kita berhak menerima atau menolak teman asing kita ketika ingin memeluk, tapi rasanya kurang tepat bila hal ini terlalu dikomentari atau bahkan diperdebatkan. 

Cukuplah kita berpandangan positif dan menghargai pilihan orang lain.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda