True Color

Leave a Comment
"Tidak ada orang yang tak munafik”. Gara-gara pernyataan teman saya ini, saya pun jadi teringat pernyataan setara ‘Seseorang hanya menunjukkan sifat aslinya kepada orang terdekatnya’. Bagi si pemikir macam saya, dua pernyataan ini ampuh mengarahkan saya kepada pertanyaan beranak-pinak. Saya mengingat kembali ada beberapa teman yang cukup menjadi pergunjingan. Di mata orang-orang sifatnya dianggap kurang baik. Saya mungkin dianggap aneh karena malah mencoba mendekatinya. Seseorang bertanya, “Thel, gak salah lu temenan sama dia? Hati-hati nanti malah ketularan buruknya!”. Saat itu saya hanya merespon, “Tiap orang punya sisi baik, tapi tak semua mampu melihatnya.” Benar saja, makin lama saya mengenal mereka, saya menyadari bahwa selalu ada alasan di balik sifat dan sikap.

Tak sekedar teman, saya bahkan dulunya pernah naksir sama pria yang kelihatannya bandel. Dari penampilan fisiknya saja, banyak yang berseloroh kalau dia seram. Badannya lumayan besar, kulitnya hitam, sempat pindah kampus, dan sering bolos kuliah. Beberapa kali jalan bersamanya, saya sempat mendengar celotehan di belakang, “Serius tuh? Kok bisa ya?” Di luar dugaan, saat saya dan beberapa teman main ke kost-nya, dia punya satu rak yang berisi buku-buku dan tumpukan koran. Kejutan lainnya, saat kami pergi liburan berdelapan ke Jogja, saya melihat pria yang kesannya seram ini begitu bertanggungjawab dan membuat kami para wanita merasa aman. Yah, meskipun saya dan dia tidak jadian saat itu, saya akan selalu ingat perkataannya, “Kalau kau mau tanya apa saja kenakalan yang belum pernah kucoba di dunia ini, semuanya sudah kecuali mainin perempuan dan narkoba. Dan tentunya gak akan kucoba-coba.”

Vice versa. Saya pun pernah menjalin pertemanan dengan beberapa orang yang amat-sangat sabar, punya segudang prestasi, dan terkesan sangat positif di ruang publik. Setelah pengenalan cukup lama, si humoris memperlihatkan sisi temperamennya; si inspiratif menunjukkan ketidakpeduliannya; si agamis menunjukkan kebebalannya. Kembali ke dua pertanyaan di awal, apakah ini bukti bahwa semua orang punya sisi munafik? Atau memang setiap orang hanya mau menunjukkan sebenarnya warna mereka kepada orang terdekatnya? Ataukah ini semua bersumber dari satu alasan yakni penerimaan? Cukup masuk akal, tentu setiap orang ingin diterima di lingkungannya dan tidak ada seorang pun yang sengaja ingin dicap buruk. Hanya ada yang sebegitunya mementingkan nilai diri dan ada yang sebegitunya tak acuh terhadap komentar orang. Saya tidak berani berkata tipe yang satu lebih baik dari tipe yang lain karena toh selaku orang dewasa kita sendiri yang memilihnya.

Nah, tibalah pertanyaan itu saya ajukan ke diri sendiri. Saya termasuk kumpulan yang mana? Mungkin semakin banyak kita mengenal karakter orang, makin sering pula kita introspeksi. Urusan sifat seseorang, bukan kapasitas kita mengubahnya sesuai standar kita. Asalkan masih ada respect maka pertemanan masih worth it untuk dilanjutkan. Pesan moralnya: terlalu mudah mengagumi maupun terlalu cepat menghakimi sama-sama kurang baik bagi kesehatan hati.

“Such a same surprise for me seeing the bright side of bad people and the dark side of good people. But if you ask which one I prefer, I am happy to be the few people who find the good in bad.”
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda